Anggaran Film Elden Ring Melonjak, Kini Hampir Mencapai Rp 3,6 Triliun
Jakarta - Film live-action yang diadaptasi dari game kondang berjudul Elden Ring dilaporkan mengalami lonjakan biaya produksi. Angka anggaran yang sempat disebut berada di kisaran USD 100 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun kini naik menjadi hampir USD 200 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun.
Naiknya anggaran ini membuat proyek adaptasi game dari A24 tersebut menjadi salah satu film dengan biaya produksi yang sangat besar. Kenaikan hampir dua kali lipat dari angka awal juga memberi sinyal bahwa film ini digarap dengan skala yang lebih luas dari rencana sebelumnya.
Kenaikan Anggaran Jadi Sorotan
Sebelum angka terbaru ini muncul ke permukaan, film Elden Ring sempat dilaporkan memiliki budget di kisaran USD 100 juta atau sekitar Rp 1,8 triliun. Namun, laporan terbaru menyebut angka tersebut naik menjadi hampir USD 200 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun.
Kalau melihat rentang perubahan tersebut, film ini tidak hanya mengalami penyesuaian biaya biasa. Peningkatan yang mendekati dua kali lipat biasanya berkaitan dengan pembesaran lingkup produksi, mulai dari pengambilan gambar, tata produksi, efek visual, hingga ambisi penyajian dunia fantasi yang kompleks.
Dalam konteks film Elden Ring sebagai adaptasi dari game populer, anggaran sebesar itu juga relevan. Game sumbernya dikenal memiliki dunia terbuka yang luas dengan atmosfer gelap, creature design yang unik, serta lanskap fantasi yang sangat detail. Semua unsur tersebut biasanya menuntut eksekusi visual yang besar ketika dipindahkan ke layar lebar.
Perbandingan dengan Film A24 Termahal Lainnya
Untuk memahami seberapa besar angka tersebut dalam daftar film A24, kita bisa membandingkannya dengan beberapa judul yang sebelumnya dianggap sebagai proyek mahal studio.
Saat ini, film A24 yang dilaporkan sebagai yang termahal adalah Marty Supreme. Film itu disebut menelan biaya produksi sebesar USD 70 juta atau sekitar Rp 1,2 triliun.
Angka tersebut lebih tinggi dari Civil War, karya sutradara Alex Garland, yang dilaporkan menghabiskan sekitar USD 50 juta atau sekitar Rp 906 miliar. Keduanya sudah termasuk proyek berskala besar untuk A24.
Namun, jika angka baru ini benar, film Elden Ring langsung melampaui dua judul tersebut dengan jarak yang sangat jauh. Budget yang hampir mencapai USD 200 juta membuat film ini menjadi salah satu produksi termahal dalam perjalanan A24 sebagai studio.
| Judul Film | Budget (USD) | Estimasi Rupiah |
|---|---|---|
| Civil War | USD 50 juta | Sekitar Rp 906 miliar |
| Marty Supreme | USD 70 juta | Sekitar Rp 1,2 triliun |
| Elden Ring (angka awal) | USD 100 juta | Sekitar Rp 1,8 triliun |
| Elden Ring (angka terbaru) | Hampir USD 200 juta | Sekitar Rp 3,6 triliun |
Alex Garland dan Skala Proyek yang Makin Besar
Film Elden Ring digarap dengan Alex Garland sebagai penulis sekaligus sutradara. Nama Garland bukan sosok asing bagi A24, terutama dalam proyek-proyek yang memiliki skala produksi lebih besar dibanding kebanyakan film independen studio tersebut.
Sebelumnya, Garland sudah menunjukkan kemampuan mengarahkan film-film berskala besar, termasuk Civil War yang menjadi salah satu film mahal A24. Dengan anggaran yang kini dilaporkan nyaris dua kali lipat lebih tinggi, Elden Ring diposisikan sebagai proyek yang kemungkinan besar menempatkannya di puncak daftar film paling ambisius dan mahal yang pernah dikerjakan A24.
Pengelolaan produksi sebesar ini juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar. Mulai dari konsistensi gaya visual, eksekusi adegan berskala luas, hingga pengelolaan pasca produksi yang kompleks, semuanya harus berjalan dengan presisi tinggi.
Informasi Belum Dikonfirmasi Resmi
Menariknya, informasi mengenai naiknya anggaran film Elden Ring ini tidak berasal dari pernyataan resmi A24 maupun Bandai Namco. Keduanya adalah pihak yang terlibat dalam adaptasi game tersebut, tetapi sampai informasi ini beredar, belum ada konfirmasi langsung dari kedua perusahaan.
Ini membuat berita mengenai budget film masih perlu dilihat sebagai laporan yang beredar, bukan pernyataan resmi. Meski begitu, detail yang muncul cukup spesifik dan berasal dari sisi produksi film itu sendiri.
Petunjuk dari Postingan Penata Properti
Salah satu sinyal yang menguatkan kabar ini datang dari Sean Schofield, seorang penata properti film Elden Ring. Ia sempat membagikan konten terkait selesainya proses pengambilan gambar film tersebut.
Konten itu kemudian dihapus dari Instagram milik Schofield. Namun sebelum dihapus, unggahan tersebut menampilkan beberapa detail yang menunjukkan bahwa proses syuting film ini sudah selesai. Detail dalam unggahan itu antara lain:
- tas bertuliskan Elden Ring di bagian atasnya,
- gantungan kunci berbentuk clapperboard,
- kartu ucapan terima kasih yang ditandatangani sutradara Alex Garland,
- kartu ucapan terima kasih yang juga ditandatangani oleh produser Allon Reich, Matthew Penry-Davey, Peter Rice, Andrew Macdonald, dan Charlie Reed.
Unggahan semacam ini bukan pertama kalinya menjadi petunjuk bahwa produksi sebuah film sudah mencapai tahap penting. Dalam industri film, detail properti atau ucapan terima kasih dari kru sering kali muncul sebelum pengumuman resmi dilakukan oleh studio.
Tahap Produksi dan Jadwal Tayang
Dengan pengambilan gambar yang dilaporkan sudah selesai, film Elden Ring kini memasuki tahap pasca produksi. Ini adalah fase krusial karena pada tahap tersebut, elemen-elemen seperti visual effects, color grading, editing, sound design, dan penyempurnaan adegan akan digarap secara serius.
Untuk adaptasi game dengan dunia fantasi yang kompleks, tahap pasca produksi biasanya menjadi salah satu fase paling intens. Semakin besar skala film, semakin banyak juga pekerjaan visual yang harus diselesaikan dengan rapi.
Rencana penayangannya sendiri dijadwalkan pada Maret 2028. Artinya, film ini masih memiliki waktu yang cukup panjang sebelum sampai ke tangan penonton. Jeda ini bisa dimanfaatkan untuk memastikan efek visual benar-benar matang, mengingat genre dan skala filmnya menuntut kualitas eksekusi yang tinggi.
Apa Artinya bagi Film Adaptasi Game?
Kenaikan budget film Elden Ring menunjukkan bahwa adaptasi game kini semakin diperlakukan sebagai proyek film berskala besar, bukan sekadar produksi sampingan. Dulu, film dari game sering dianggap sebagai produk dengan ekspektasi terbatas. Namun tren dalam beberapa tahun terakhir mulai bergeser.
Seiring naiknya standar visual, cerita yang lebih dewasa, dan kebutuhan penonton akan film yang sinematik, biaya produksi adaptasi game juga ikut tumbuh. Film Elden Ring adalah contoh yang cukup jelas dari arah tersebut.
Di satu sisi, anggaran besar bisa membuka peluang eksekusi yang lebih maksimal. Namun di sisi lain, film berbudget tinggi juga menghadapi ekspektasi yang lebih berat. Penonton akan menilai tidak hanya dari besarnya biaya, tetapi juga dari kualitas cerita, visual, dan kesetiaan pada materi asalnya.
Kesimpulan
Film live-action Elden Ring kini menjadi salah satu proyek A24 yang paling banyak dibicarakan, bukan hanya karena sumber adaptasinya dari game besar, tetapi juga karena laporan mengenai naiknya anggaran hingga hampir USD 200 juta atau sekitar Rp 3,6 triliun.
Angka tersebut jauh melampaui film A24 lain yang sebelumnya dianggap mahal, seperti Civil War dan Marty Supreme. Dengan Alex Garland sebagai sutradara dan penulis, proyek ini diposisikan sebagai salah satu film paling ambisius dan berskala besar dari studio tersebut.
Walaupun informasi ini belum dikonfirmasi resmi oleh A24 maupun Bandai Namco, detail yang muncul dari sisi produksi cukup menguatkan arah pemberitaannya. Yang jelas, Elden Ring kini memasuki tahap pasca produksi dengan target tayang pada Maret 2028 dan tantangan besar untuk menghadirkan visual yang setingkat dengan ekspektasi penonton game.