Onic Akui Kesalahan di FFWS SEA Fall, Siap Tebus di FFWS Global Finals
Jakarta – Kegagalan Onic Free Fire menjuarai FFWS SEA 2026 Fall akhirnya dibedah langsung oleh tim pelatih. Bukan soal strategi yang terlalu rumit, melainkan miskomunikasi sederhana yang muncul pada momen paling menentukan.
Booyah, istilah yang merujuk pada kemenangan di sebuah match, tidak berhasil diraih Onic pada laga terakhir. Menurut pelatih Onic Free Fire, Ahmad Masturoh alias AFM, masalah tersebut berakar pada keputusan akhir yang tidak jelas ketika pertandingan memasuki fase kritis.
Onic Bongkar Miskomunikasi di Late Game
AFM mengungkapkan bahwa sumber persoalan terjadi antara dua pemain, Adam dan Poom. Pada match penentu, keduanya tidak berada dalam satu suara saat tim perlu memilih arah permainan.
Menurut AFM, masalah itu sebenarnya sederhana. Jika tim memutuskan mempercayai Adam, seluruh anggota seharusnya langsung mengikuti opsi yang diambil. Sebaliknya, jika tim memilih mempercayai Poom, keputusan juga perlu dijalankan tanpa ragu.
Yang terjadi justru sebaliknya. Komunikasi tim berubah menjadi saling berteriak tanpa titik akhir. Akibatnya, tidak ada keputusan yang benar-benar dieksekusi, dan momentum penting dalam pertandingan terlewat.
Pernyataan itu disampaikan AFM dalam acara pelepasan tim Free Fire Indonesia yang lolos FFWS Global Finals 2026, di Jakarta Selatan, Sabtu, 31 Oktober 2026. Ia menilai kesalahan ini menjadi bahan evaluasi yang penting sebelum tim tampil di panggung yang lebih besar.
Inti penjelasan AFM cukup jelas: masalah komunikasi itu tidak rumit, tetapi keputusan akhir pada fase penting tidak pernah benar-benar muncul.
Langkah Perbaikan yang Disiapkan Onic
Untuk memperbaiki pola komunikasi tersebut, Onic akan menyusun struktur pengambilan keputusan yang lebih tegas pada FFWS Global Finals 2026. AFM menyebut bahwa keputusan akhir di fase late game akan diserahkan kepada Crime dan Poom.
Dengan cara ini, tim berharap tidak lagi muncul keraguan saat zona menyempit dan waktu menipis. Satu nama menjadi penentu arah, sementara anggota lain bergerak berdasarkan perintah yang telah disepakati.
Adam dan Poom Menjadi Sorotan
Nama Adam dan Poom menjadi sorotan karena keduanya disebut berada di titik tengah miskomunikasi. Adam adalah salah satu pemain Onic yang disebut dalam momen tersebut, sedangkan Poom merupakan pemain asal Thailand yang baru bergabung untuk kompetisi regional ini.
Sebelum memperkuat Onic, Poom pernah bermain untuk Team Falcons. Ia didatangkan untuk menambah kekuatan Onic di FFWS SEA 2026 Fall. Meski gelar juara belum berhasil dibawa pulang, kehadiran Poom dinilai memberikan kontribusi yang cukup positif.
Evaluasi Pelatih terhadap Performa Poom
AFM menyebut performa Poom dari Knockout Stage hingga Grand Final sudah sesuai ekspektasi. Artinya, pemain asal Thailand itu mampu menjalankan perannya selama turnamen, bahkan ketika tekanan pertandingan sedang tinggi.
Walaupun hasil akhir tidak memunculkan gelar juara, pelatih Onic tetap merasa cukup puas dengan apa yang ditampilkan Poom. Evaluasi ini menjadi sinyal bahwa masalah utama bukan pada kemampuan individu Poom, melainkan pada penyatuan keputusan tim.
Status Poom di Onic Masih Berada di Ruang Abu-abu
Di balik kontribusi yang dinilai baik, masa depan Poom di Onic belum bisa dipastikan. AFM tidak menutupi bahwa ada kabar kemungkinan pemain tersebut tidak lagi memperkuat Sang Landak Kuning setelah FFWS Global Finals 2026.
Salah satu faktor yang membuat status itu belum jelas adalah kewajiban militer di Thailand. AFM menjelaskan bahwa Poom memiliki kemungkinan terkena program tersebut sesuai usianya, tetapi mekanisme perekrutannya tidak sepenuhnya bisa diprediksi karena bersifat acak.
Kabar itu bahkan sudah muncul sebelum pernyataan terbaru. Meski begitu, AFM masih menunggu kebijakan yang berlaku dan belum mengambil kesimpulan final.
Ada satu sisi yang memberi optimisme. Sekitar sebulan lalu, saat Poom berada di Thailand, pemain tersebut sempat menghubungi AFM. Dalam pesan itu, ibu Poom disebut telah memberi izin jika anaknya ingin melanjutkan karier esports di Indonesia.
Dengan kondisi tersebut, posisi Poom tetap menjadi salah satu elemen yang perlu dipantau selama tim mempersiapkan diri untuk FFWS Global Finals 2026.
Target Onic di FFWS Global Finals 2026
Para pemain Onic menyebut persiapan mereka berjalan cukup matang. Latihan terus-menerus menjadi bagian utama dari program tim, baik untuk memperbaiki komunikasi maupun untuk menjaga konsistensi pertandingan.
Meskipun ambisi besar adalah menjadi juara, tim memilih menyederhanakan target menjadi beberapa tahap. Harapan terdekat adalah memastikan tempat di babak Grand Final terlebih dahulu.
Setelah berhasil lolos ke fase tertinggi, baru mereka berupaya menjadikan momentum itu sebagai jalan menuju gelar juara.
- Latihan dan perbaikan: tim terus berlatih untuk mengatasi miskomunikasi dan menjaga kekompakan.
- Fase pertama: menargetkan lolos ke Grand Final FFWS Global Finals 2026.
- Fase puncak: setelah berada di Grand Final, ambisi ditingkatkan menjadi mengejar gelar juara.
Tabel Ringkasan: Masalah, Evaluasi, dan Rencana Onic
Agar lebih mudah dipahami, berikut ringkasan dari kesalahan yang disoroti Onic, evaluasi terhadap pemain, serta rencana perbaikan yang akan dibawa ke FFWS Global Finals 2026.
| Aspek | Di FFWS SEA 2026 Fall | Rencana untuk FFWS Global Finals 2026 |
|---|---|---|
| Komunikasi late game | Adam dan Poom tidak satu suara saat pengambilan keputusan akhir. | Keputusan akhir diserahkan kepada Crime dan Poom agar lebih jelas. |
| Performa Poom | Dinilai sesuai ekspektasi sejak Knockout Stage hingga Grand Final. | Kontribusinya tetap diharapkan meski status tim masih belum jelas. |
| Target tim | Belum berhasil meraih booyah dan gelar juara. | Masuk Grand Final terlebih dahulu, lalu mengejar juara. |
Belajar dari Kegagalan di Panggung Regional
Turnamen regional seperti FFWS SEA 2026 Fall memberi gambaran tentang sejauh mana sebuah tim siap menghadapi tekanan. Bagi Onic, hasil tersebut bukan akhir, melainkan cermin yang memperlihatkan bagian mana yang perlu diperbaiki.
Di esports, rencana strategi bisa saja disusun dengan baik. Namun, jika komunikasi pada detik-detik terakhir tidak sinkron, keunggulan taktis dapat menghilang dalam sekejap. Masalah yang disebut AFM mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat nyata dalam kompetisi level tinggi.
Karena itu, keputusan untuk mempertegas siapa yang bertanggung jawab di late game menjadi langkah logis. Tim tidak hanya meminta para pemain untuk berkomunikasi, tetapi juga memberi kerangka agar tidak ada lagi kebingungan pada saat penting.
Kesimpulan
Onic mengakui bahwa kegagalan di FFWS SEA 2026 Fall berakar dari miskomunikasi pada keputusan akhir di late game. Persoalan itu melibatkan Adam dan Poom, sehingga tim memilih memperbaiki struktur pengambilan keputusan sebelum tampil di FFWS Global Finals 2026.
Di samping itu, performa Poom tetap mendapat nilai positif dari pelatih, meskipun statusnya di Onic masih belum jelas karena kemungkinan kewajiban militer di Thailand. Dengan persiapan latihan yang terus berjalan, target Onic kini disusun bertahap: lolos ke Grand Final terlebih dahulu, lalu berjuang meraih gelar juara.
Apakah perbaikan komunikasi ini mampu menjadi jawaban untuk ambisi besar di FFWS Global Finals 2026? Jawabannya akan ditentukan saat Onic kembali menghadapi tekanan tertinggi di panggung internasional.